Ketahui Jenis Jenis Saham Sebelum Di Perjual Belikan Sebagai Investasi

Untuk lebih mengerti tentang investasi saham adalah tentu saja anda perlu mengenal macam-macam saham yang nantinya mungkin anda perjual-belikan. Berikut ini adalah jenis jenis saham dan penjelasannya.

jenis jenis saham
jenis jenis saham – Photo by Lorenzo from Pexels

 

Jenis Jenis SAHAM



Berdasarkan volume kapital di bursa efek, saham terbagi menjadi 3 jenis yaitu saham Blue Chip, saham Second Layer dan saham Third Layer.

 

Saham Third Layer



Saham lapis ketiga diterbitkan oleh perusahaan dengan nilai kapital yang kecil, likuiditasnya pun tergolong kecil (di bawah 1 triliun).

Banyak orang menyebut saham third layer ini sebagai saham tidur karena fluktuasi sahamnya sangat stabil atau bahkan tidak bergerak sama sekali walaupun pergerakan harga di bursa efek sudah naik turun.

Dalam waktu yang cukup lama perusahaan emiten saham jenis ini bisa saja mendapatkan peringatan delisting dari BEI.

Suatu saat perusahaan emiten third layer bisa saja mendapatkan suntikan dana dalam jumlah yang besar untuk memicu pertumbuhannya agar nilai sahamnya juga terdongkrak naik.

Dengan cara lain, saham perusahaan ini juga dapat bergerak naik jika terjadi corporate action yang signifikan seperti pembelian saham mayoritas atau bahkan seluruhnya oleh perusahaan lain atau yang biasa disebut dengan akuisisi.

 

Saham Second Layer

Perusahaan penerbit saham lapisan kedua tidak memiliki kapitalisasi sebesar perusahaan-perusahaan emiten saham Blue Chip.

Harga saham di lapisan kedua ini mudah terpengaruh oleh pergerakan pasar karena perusahaan-perusahaan ini masih dalam tahap berkembang menuju perusahaan besar.

Contoh perusahaan yang masuk dalam daftar perusahaan emiten saham second layer adalah PT Kalbe Farma Tbk. (KLBF), PT Ciputra Development Tbk. (CTRA), PT Holcim, Tbk. (SMCB), dll.

 

Saham Blue Chip

Istilah saham Blue Chip adalah menunjukkan saham yang terpercaya dengan nilai kapitalisasi yang besar.

Berinvestasi di saham Blue Chip terbilang relatif aman.

Kata blue chip ini diambil dari istilah kasino yang mengacu pada meja judi dengan jumlah nilai terbesar.

Panggilan lain untuk saham Blue Chip adalah saham big caps atau saham unggulan, dimana perusahaan-perusahaan dengan saham tipe ini dapat menggerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), memiliki fundamental yang kuat secara finansial maupun manajemen dan seringkali membagikan dividen dengan teratur.

Beberapa contoh perusahaan besar yang masuk dalam daftar perusahaan penerbit saham Blue Chip antara lain PT Bank Mandiri Tbk. (BMRI), PT Astra International, Tbk. (ASII), PT Indofood Sukses Makmur Tbk. (INDF), PT Unilever, Tbk. (UNVR), dll.

Ada 45 perusahaan-perusahaan emiten saham Blue Chip pada BEI yang dikenal dengan nama index LQ45 dimana setiap perusahaan di dalam daftar ini dievaluasi setiap enam bulan dan kemudian diberikan peringkat/benchmark.

Walaupun nilai kapital sebuah perusahaan dapat menjadi tolok ukur yang cukup mumpuni untuk mengkategorikan saham, ada juga klasifikasi saham berdasarkan kinerjanya di perdagangan bursa, yaitu:

  • Blue chip stocks: saham umum/biasa yang mempunyai reputasi besar, bagaikan pemimpin dalam industrinya, mempunyai pemasukan yang normal serta tidak berubah- ubah dalam membayar dividen.
  • Income stocks: merupakan saham sesuatu emiten dengan keahlian membayarkan dividen lebih besar dari rata- rata dividen yang dibayarkan pada tahun sebelumnya.
  • Speculative stocks: saham secara tidak berubah- ubah mendapatkan pemasukan dari tahun ke tahun, memiliki mungkin pemasukan yang besar di masa mendatang, tetapi belum tentu.
  • Cyclical stocks: saham yang tidak terbawa- bawa oleh keadaan ekonomi makro ataupun suasana bisnis secara universal( saham tidur).
  • Emerging Growth Stocks: saham yang dikeluarkan oleh emiten yang relatif kecil serta normal walaupun dalam keadaan ekonomi yang kurang menunjang.
  • Defensive Stocks, saham yang senantiasa normal dari sesuatu periode ataupun keadaan yang tidak menentu serta resesi.

Growth stocks terdiri dari well- known serta lesser- known.

  • Well- known: Saham– saham dari emiten yang mempunyai perkembangan pemasukan yang besar, bagaikan leader di industri sejenis yang memiliki reputasi besar.
  • Lesser- known: Saham dari emiten yang tidak bagaikan leader dalam industri, tetapi mempunyai karakteristik growth stock. Biasanya saham ini berasal dari wilayah serta kurang terkenal di golongan emiten.

 

Dari segi hak klaim investor, saham ada 2 jenis yaitu saham biasa (common stock) dan saham preferen (preferred stock).

 

Berikut ini penjelasannya:

 

Saham Biasa

Tipe saham biasa adalah memiliki hak suara atas keputusan-keputusan tertentu yang dilakukan pada RUPS sebuah perusahaan seperti pemilihan direksi atau dewan komisaris.

Pemilik saham biasa akan diprioritaskan jika ingin menambah porsi kepemilikan saham pada saat perusahaan menambah jumlah lembar saham yang beredar, hak prioritas ini dalam bahasa kerennya disebut right issue.

Pembagian dividen dari kepemilikan saham ini diberikan selama perusahaan masih mendapatkan laba dan jumlah dividen yang didapatkan oleh pemilik saham biasa dapat berbeda (fluktuatif) tiap periodenya tergantung pada kinerja perusahaan tersebut.

Pembagian dividen yang dibagikan kepada pemegang saham biasa dilakukan setelah perusahaan telah mengeluarkan dividen untuk pemegang saham preferen.

Saham biasa juga memiliki porsi hak terakhir atas kepemilikan aset perusahaan jika perusahaan tersebut mengalami likuidasi, walaupun jarang sekali perusahaan yang bangkrut sahamnya masih memiliki nilai.

Jenis saham yang biasanya beredar di perdagangan bursa saham adalah tipe saham ini.

Baca juga : Saham Modal Kecil

 

Saham Preferen




Saham preferen biasanya adalah porsi saham khusus yang diterbitkan untuk pendiri perusahaan.

Pemilik saham preferen ini tidak memiliki hak suara atas pengambilan keputusan pada RUPS kecuali pada kondisi tertentu saja.

Hak atas dividen untuk saham preferen diberikan dalam jumlah dan periode yang tetap, jadi pemegang saham tipe ini tidak menikmati jika ternyata perkembangan perusahaan membuat harga saham perusahaan tersebut naik.

Dividen yang menjadi hak pemilik saham preferen juga bersifat kumulatif, apabila perusahaan belum membayarkan dividen periode sebelumnya maka akan dibebankan pada periode berjalan dan diutamakan pembayarannya sebelum pembayaran dividen saham biasa.

Jika perusahaan mengalami kebangkrutan, pemilik saham preferen berada di kondisi yang lebih aman dibandingkan dengan pemilik saham biasa karena mereka mendapatkan hak atas asset perusahaan sebelum saham biasa namun sekali lagi, biasanya nilai saham perusahaan yang mengalami pailit cenderung tidak berarti.

Berdasarkan kepemilikannya ada saham atas unjuk dan saham atas nama.

Pada lembar saham atas unjuk (Bearer Stocks) tidak dituliskan nama pemiliknya sehingga lebih mudah dipindah tangankan.

Pemegang lembar saham tersebut diakui oleh hukum sebagai pemiliknya dan memiliki hak serta kewajiban dari saham tersebut.

Lain halnya dengan lembar saham atas nama (Registered Stocks), di lembarannya tertera nama pemiliknya jadi lebih sulit untuk dialihkan dan harus lewat prosedur resmi untuk memindah-tangankan saham jenis ini.

Nah.., Jadi sebelum Anda melangkah untuk memulai investasi dibidang ini sangat diperlukan pemahaman dan mempelajari tentang berbagai macam bentuk dan jenis jenis saham terlebih dulu. Semoga bermanfaat…